Pesan Positif Dalam Film “Imperfect”

Pesan Positif Dalam Film “Imperfect” – Siapa yang tak ingin memiliki tubuh ideal, sukses di karier dan pergaulan? Padahal, “tubuh ideal” sendiri merupakan standar yang diciptakan oleh media dan sebuah industri kecantikan. Sayangnya, banyak orang tua terjebak untuk menerapkan standar ini pada anak-anaknya, bahkan pada dirinya sendiri.

Hal ini mirip dengan standar “pintar” yang masih banyak dipahami orang tua sebagai mendapat nilai bagus di sekolah. Akibatnya, anak yang tidak memenuhi standar tersebut merasa tertekan karena merasa tidak mendapatkan dukungan orang tua.

Pesan Positif Dalam Film “Imperfect”

Film Imperfect karya Ernest Prakasa dan istrinya, Meira Anastasia, menceritakan bagaimana Rara (Jessica Mila) berjuang untuk mencintai dirinya sendiri sejak kecil dengan tubuh yang lebih berat dari orang seusianya. Ayahnya yang selalu mencintai ia apa adanya meninggal menjelang Rara remaja, sementara ibunya (Karina Suwandi) selalu mengingatkan Rara untuk membatasi makanannya agar tidak gendut. situs slot

Rara semakin tertekan karena adiknya seorang artis Instagram yang sangat cantik dan langsing, yang membuat orang selalu membandingkannya dengan adiknya. Rara juga menjadi sasaran ejekan di tempat kerjanya karena penampilan cueknya bertolak belakang dengan sebagian besar karyawan perusahaan kosmetik tempat ia bekerja. situs slot

Pesan Positif Dalam Film “Imperfect”

Karena suatu hal, Rara pun melakukan diet mati-matian untuk menjadi “ideal”. Meskipun garis besar film ini seolah mengisahkan perjuangan diet Rara, namun sebenarnya terdapat pesan penting yang relevan bagi orang tua dalam hal pengasuhan anak dan remaja agar tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mampu menghargai dirinya sendiri. Inilah alasan mengapa orang tua perlu menonton film Imperfect:

1. Agar orang tua mampu memahami bahwa anak bisa tertekan karena komentar “sepele”

Bagi ibu Rara, komentar seperti “Inget paha (yang besar)..!” mungkin hanya bermaksud mengingatkan agar Rara tidak terlalu banyak makan. Namun, bagi Rara yang konsisten mendapat komentar sejenis, hal ini mempengaruhi kepercayaan dirinya. Pipi tembam, betis besar, kulit gelap, dan sejumlah keluhan khas wanita kenyataannya mampu mempengaruhi kepercayaan diri anak kala remaja dan bisa bertahan hingga dewasa jika ia masih belum bisa menerima dirinya apa adanya. Ini juga berlaku bagi anak laki-laki, lho.

Jadi, coba bayangkan komentar tersebut ditujukan pada diri Anda sendiri. Jika rasanya tidak nyaman, jangan katakan hal tersebut pada anak meskipun hanya ingin bergurau. Anak yang tidak percaya diri tidak mampu melihat kelebihan dirinya, selalu merasa gagal, dan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif yang membuatnya merasa berharga.

2. Agar orang tua menekankan pada anak bahwa penampilan tidak menentukan kebahagiaan dan harga dirinya

Setiap orang tumbuh besar dengan nilai-nilai yang dianggap penting, dan ini diwariskan dalam keluarga atau dipelajari dari lingkungan sekitarnya.

Anak yang tumbuh besar dengan banyak komentar fisik dari orang tua akan menangkap pesan bahwa penampilan itu penting, lebih penting dari kemampuan lain yang sebenarnya ia miliki.

Apalagi, remaja adalah fase dimana seseorang kerap merasa inscure (cemas akan dirinya, tidak percaya diri) tentang penampilan dan penerimaan lingkungan pertemanannya. Karenanya, orang tua perlu menyampaikan pada anak bahwa kebahagiaan tidak ada ditentukan oleh penampilan, begitu juga harga dirinya.

3. Agar orang tua menghargai pencapaian anak

“Kok, makan coklat lagi? Nanti dietmu gimana?”

Kalimat tersebut maksudnya baik, agar jerih payah Rara dalam berdiet tidak sia-sia. Namun, jika pujian yang diterima lebih sedikit daripada komentar semacam tadi, anak akan menganggap usahanya selama ini tidak cukup baik. Ada anak yang semakin termotivasi untuk membuktikan perjuangannya, namun ada yang akhirnya stres karena lelah memenuhi standar keberhasilan yang ditetapkan orang tuanya. 

4. Agar orang tua bisa mengajak anak melihat kelebihannya

“Masih staf kok, bukan manajer.”

Begitu komentar ibu Rara saat teman-temannya memuji Rara yang bekerja di perusahaan kosmetik. Bisa saja ibu Rara bermaksud merendah, namun bagi Rara hal tersebut menyiratkan bahwa dirinya tidak cukup berhasil. Padahal, Rara rutin mengajar di sekolah bagi anak-anak kurang beruntung di lokasi pembuangan sampah.

Ibunya mungkin tidak menganggap hal tersebut sebagai kelebihan, Rara pun tidak menganggapnya suatu pencapaian. Malah, kekasihnya (Reza Rahadian) lah yang membuatnya sadar bahwa keikhlasan Rara berbagi ilmu dengan anak-anak tersebut adalah suatu kelebihan.

5. Agar orang tua dapat berdamai dengan masa lalu

Ini hal paling penting yang mungkin mendasari alasan sebagian besar orang tua untuk membuat anaknya begini dan begitu: masa lalu.

Di akhir cerita, ternyata ada satu hal yang berhubungan dengan masa lalu ibu Rara yang membuatnya tanpa sadar selalu “menekan” Rara untuk bisa berbadan langsing dan berpenampilan cantik. Tentu, setelah ia menyadarinya, perilakunya pun turut berubah.

Andai saja setiap orang tua bisa mencari tahu sejak awal mengapa secara tak sadar mereka ingin anaknya mencapai hal tertentu, tentu pengasuhan yang salah dapat dihindari.

Berapa pun usia anak Anda sekarang, masih belum terlambat untuk memperbaiki sudut pandang Anda dalam menilai “harga” seorang anak.

Permasalahan yang ada dalam film ‘Imperfect’ cukup kompleks dan relevan dengan kehidupan nyata. Faktanya, selama ini banyak orang yang berkecil hati karena penampilan mereka yang tak sesuai dengan standar yang ditetapkan masyarakat.

Bodyshaming sendiri seakan dianggap menjadi lelucon yang biasa saja. Padahal, hal tersebut bisa saja meninggalkan luka mendalam bagi seseorang yang merasakannya.

Konflik dalam film ‘Imperfect’ juga berlapis seperti bawang. Ketika Rara telah mencapai body goal-nya, ternyata masalah tak berhenti sampai di situ. Dia harus menghadapi konflik hidup yang lebih luas lagi.

Meskipun isu yang ada dalam film ini begitu sensitif, namun Ernest dan Meira mampu membangun cerita dengan ringan dan menghibur. Sederet komedi yang ada di film ini mampu membuat kita melihat masalah bodyshaming dari sudut pandang yang lain.

Drama keluarga yang dihadirkan dalam ‘Imperfect’ juga begitu kuat. Tak seperti film-film Ernest sebelumnya, adegan puncak di film ini terasa begitu menyedihkan, nyata, dan mengena di hati.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini mampu tersampaikan dengan baik ke penonton. Ernest seakan mengajak kita untuk bercermin, apakah selama ini kita masih melakukan perisakan pada orang-orang di sekitar, dan bagaimana dampak yang dirasakan oleh orang tersebut.

Cast yang bagus mendukung jalan cerita

Selain jalan cerita yang menarik, apiknya film ‘Imperfect’ juga didukung oleh para pemain yang tampil dengan totalitas. Salah satunya adalah Jessica Mila.

Film ini menjadi ajang pembuktian Jessica Mila sebagai salah satu aktris terbaik di Tanah Air. Transformasinya sebagai Rara patut diacungi jempol.

Tak hanya sekadar perubahan bentuk fisiknya, namun ia juga bisa memainkan emosi Rara saat masih gemuk dan ketika sudah kurus. Perasaan sakit hati karena memendam kesal bertahun-tahun disampaikan dengan baik oleh aktris berusia 27 tahun itu.

Film Terlaris Angga Sasongko ‘NKCTHI’

Film Terlaris Angga Sasongko ‘NKCTHI’ – ‘Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini’ (NKCTHI) menjadi film nasional paling hits sepanjang akhir pekan lalu, ditonton dan tak henti-hentinya dibicarakan khalayak ramai hingga hari ini. Tak kurang dari 445.000 pasang mata, selepas tiga hari tayang sejak Kamis lalu, telah menyaksikan karya Angga Dwimas Sasongko, sang sutradara, sebagai film terbaiknya sejauh ini.

Lantas hashtag #NKCTHIcanrelate menjadi trending di Twitter, membuka wacana tentang betapa begitu banyak penonton yang menganggap tawaran kisah NKCTHI mewakili perjalanan hidup mereka. slot online

Film Terlaris Angga Sasongko 'NKCTHI'

Bagaimana tidak, setiap dari kita tentulah seorang anak sulung seperti Angkasa (Rio Dewanto, ‘Filosofi Kopi’, ‘Bulan di Atas Kuburan’), atau anak tengah seperti Aurora (Sheila Dara, ‘Eggnoid’, ‘Bridezilla’) atau anak bontot seperti Awan (Rachel Amanda, ‘Dua Garis Biru’, ‘Terlalu Tampan’) di keluarga kita masing-masing. Dan, pada satu, dua, atau lebih kesempatan kita pun pasti sempat berselisih dengan anggota keluarga kita yang lain. Mungkin cuma golongan anak semata wayang, yang bakal kesulitan relate terhadap film adaptasi dari buku best seller flash fiction berjudul sama karya Marchella FP ini. slot online

Syahdan sewaktu kecil Awan si anak bontot, sempat tertabrak motor sepulang sekolah, ketika kedua kakaknya, Angkasa dan Aurora lengah mengawasinya. Ayah (Oka Antara, ‘Foxtrot Six’, ‘Aruna dan Lidahnya’) marah kepada Angkasa dan berpesan agar selalu menjaga kedua adiknya sebaik-baiknya. Tugas Ayah dan Ibu hanya memproduksi kalian untuk terlahir ke dunia ini, tugasmu lah sebagai kakak untuk menjaga adik-adikmu! Mungkin begitu pesan tersirat di kepala Ayah, yang tak pernah tercetus, manakala ia memelototi Angkasa yang tengah menangis, dirundung rasa bersalah yang tak semestinya ia pikul sendiri.

Film Terlaris Angga Sasongko 'NKCTHI'

Sampai Awan dewasa, Ayah masih meminta Angkasa untuk menjaganya, seperti dengan teratur menjemputnya pulang setiap jam kantor usai. Hingga Awan kecelakaan lagi. Tetapi, keadaan kini tak seperti dulu. Angkasa tak menangisi kemalangan yang menimpa adiknya itu, tetapi sikap Ayah (kemudian diperankan Donny Damara, ‘Lovely Man’, ‘Mari Lari’) masih sama seperti dulu. “Kalau Ayah bilang jemput Awan di kantor, jemput dia di kantor! Bukan di tengah jalan!” hardik Ayah kepada Angkasa yang bersikap enggan untuk disalahkan.

Di permukaan persoalan menjaga Awan seprotektif itu memang terkesan sepele dan terlalu dibesar-besarkan for the sake of conflict per se. Tetapi rupanya trio penulis naskah Jenny Jusuf (‘Mantan Manten’, ‘Ngenest’), Angga Dwimas Sasongko (‘Filosofi Kopi the Movie 2’, ‘Cahaya dari Timur’), dan Melarissa Sjarif sudah menyiapkan segala pembenaran untuk itu yang disimpan rapat-rapat hingga paruh akhir babak kedua. Dan terus terang saja, saya tak menyangka twist-nya demikian. Padahal dari awal film bermula, sudah banyak petunjuk yang diperlihatkan sebagai planting atas pay off yang tak terduga itu.

Pengarahan Angga sebagai sutradara luar biasa, terutama dalam mengarahkan pemain dan bagaimana menata adegan-adegan dari masa lalu dan masa kini saling berkelindan, menjaga cerita terus bergerak sambil tetap menutupi misteri serapat mungkin agar ketika ia terbuka, kita terkejut dan terkesima.

Tetapi, saya tak suka hasil kerja penata artistik film ini, entahlah, bagi saya penataan properti — atau apa pun itu yang bakal tertangkap kamera baik di latar depan atau belakang, semestinya bukan soal menciptakan dekorasi ruangan sekece-kecenya, tetapi bagaimana dekorasi itu dapat tampil lumrah seperti yang biasa kita jumpai di rumah kita masing-masing. Sedikit berantakan bakal memberi kesan nyata itu. Apalagi di rumah sebesar itu, tak pernah terlihat ada ART atau Ibu sedang beres-beres rumah. Adrianto Sinaga, alih-alih bertindak sebagai desainer produksi, ia seolah sedang bekerja sebagai desainer interior yang sedang ikut pameran property expo di JCC.

Dan, durasi 120 menit adalah waktu yang terlalu panjang bagi film drama keluarga yang sebetulnya konfliknya tidak rumit-rumit amat ini. Saya biasanya tak memiliki masalah dengan lamanya durasi film, asal film tersebut memiliki beat yang enak, urutan adegan ke adegan yang mengalir lancar dalam hal menjaga pace agar konsisten asik diikuti, ada turun ada naik yang dirancang sedemikian rupa. Film ini bermasalah dalam pengaturan beat-nya, dan terutama bangunan para karakternya.

Awan adalah hero atau protagonis kita di film ini, maka kita menyaksikan film ini lewat sudut pandangnya. Tetapi, bagaimana babak pengenalannya bermula? Siapa ia di awal dan siapa ia di akhir kisah adalah pertanyaan yang mesti dielaborasi sejak naskah skenario ini masih dalam pikiran para penulisnya.

Di awal kita tak tahu persoalan yang Awan hadapi, bahkan saya sempat mengira justru karakter Ayah adalah jagoan kita, sebab ia mendapatkan treatment yang semestinya berlaku bagi protagonis utama, yakni ia diberikan bahan-bahan pengundang kesimpatikan, seperti misalnya penggambaran akan dirinya sebagai orang tua dan suami yang berusaha sekuatnya untuk menjadi yang terbaik; mampu memberi nasehat-nasehat yang baik kepada anak-anaknya, jago masak, dan ketika istrinya sedang terpuruk hingga tak mampu beranjak, ia di sana memberi dukungan terbaiknya. Ketika ia mendekati istrinya yang sedang terisak di bawah kucuran shower, dan ia peluk tanpa berucap sepatah kata pun, simpati saya untuknya sudah tak tertawar lagi.

Lantas menjadi rancu, untuk tak menyebutnya inkonsisten, jika kemudian Ayah dicitrakan sebagai figur kolot, pengekang kebebasan anak-anaknya, dan jika sifat-sifat buruk ini yang ingin diperlihatkan pembuat film kepada kita, mengapa ia juga digambarkan sebagai figur yang humoris dan hangat? Ingat adegan candle light dinner di rumah Ibu ketika mereka masih pacaran? Rasanya karakter Ayah yang dimainkan Oka dan Donny jadi terlihat seperti dua karakter yang berbeda.

Kembali kepada Awan, si tokoh utama kita. Menjelang akhir babak pertama ia berkenalan dengan Kale, sang katalis film ini. Sejak bergaul dengan Kale, Awan jadi lebih sulit untuk dikontrol baik oleh Angkasa juga oleh Ayah. Lantas konflik demi konflik seputar bagaimana membuat Awan agar tidak pulang malam semakin meruncing, puncaknya adalah terkuaknya rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh Ayah dan Ibu. Semua bermula karena Awan bertemu dengan sang katalis.

Tetapi, sebagai protagonis, Awan tak di-treatment selaiknya karakter utama mesti ditulis. Ia tak pernah mengundang simpati sejak awal. Tak pernah ada set up misalnya, pada babak pengenalan, Awan dikisahkan sedang berbuat baik, seperti Ayah dikisahkan jago masak, jago merayu Ibu, apa pun itu, sebuah usaha kecil yang mampu menarik rasa simpati kita terhadapnya.

Tahu film ‘Aladdin’ kan? Yang animasi dan versi buat ulangnya sama saja. Nah, bagaimana kita bisa bersimpati kepada karakter Aladdin si pemuda pemalas, pencuri pula? Nah, di awal film ada adegan kecil yang memperlihatkan Aladdin mencuri buah, lantas ia dikejar-kejar orang yang berusaha menangkapnya. Ketika sedang sembunyi, ia melihat seorang anak kecil tengah kelaparan. Buah yang dicurinya ia berikan kepada si anak tersebut. Itulah yang saya maksud dengan pembangun rasa simpatik.

Ulasan Film IP-Man 4 The Finale

Ulasan Film IP-Man 4 The Finale – Seri terakhir dari Ip Man saga akhirnya tayang di layar lebar. Ip Man 4: The Finale, mulai tayang pekan ini di bioskop. Sesuai judulnya, Ip Man 4: The Finale menjadi akhir dari perjalanan dan petualangan Master Ip Man (Donnie Yen). Yang menjadi dasar cerita dari film ini adalah kondisi kesehatan Master Ip Man dan konflik yang muncul setelah itu.

Konflik dalam film ini sendiri dibuat tidak terlalu rumit dan cakupannya tidak begitu luas. Konflik yang digambarkan adalah konflik personal antara Master Ip Man dan beberapa karakter yang ada di film. Film yang diperankan oleh aktor Donnie Yen ini kembali dipercaya untuk memerankan Ip Man, jagoan wing chun dari Tiongkok yang juga merupakan guru dari aktor laga Bruce Lee. Film tersebut kini sudah rilis di berbagai bioskop di Indonesia. idn slot online

Hadirnya karakter baru di film ini juga ikut menambah konflik baru yang pada akhirnya bersinggungan dengan keadaan yang harus dihadapi oleh Master Ip Man. idn slot online

Setting tempat juga kali ini tak banyak menggunakan lokasi di China, melainkan sebagian besar setting tempat di film ini diceritakan di Amerika Serikat.

Perjalanan Master Ip Man ke Amerika Serikat sendiri diawali dengan permintaan sang murid, yang tak lain dan tak bukan adalah Bruce Lee.

Ulasan Film IP-Man 4 The Finale

Hadirnya Bruce Lee (yang diperankan oleh Danny Chan Kwok-kwan) tak hanya menjadi plot device dalam film ini, tetapi sekaligus menjadi sajian yang sangat menghibur. Meski hanya mendapatkan screen time yang sedikit, hadirnya Bruce Lee dieksekusi dengan baik sehingga menjadi nilai plus dari film ini.

Selain Bruce Lee, karakter lain yang cukup menonjol sebagai plot device adalah Yonah (Vanda Margraf), selain menambah keindahan visual dengan wajah cantiknya, karakter Yonah juga mudah untuk disukai oleh penonton.

Humor dalam film ini juga disajikan dengan porsi yang pas dan hadir di waktu yang tepat. Sayangnya, kesedihan di akhir film kurang disampaikan dengan baik sehingga fondasi di awal menjadi kurang terasa ketika mendekati ending.

Ulasan Film IP-Man 4 The Finale

Overall, Ip Man 4: The Finale sangat cocok disaksikan di akhir tahun 2019 ini karena menyajikan cerita yang konfliknya cukup lengkap elemennya.

Franchise film ‘Ip Man’ bermula sejak 2008. ‘Ip Man 4: The Finale’ sendiri adalah film terakhir yang mengangkat kisah hidup sang legenda bernama asli Yip Ka-man itu.

Di sisi lain, ‘Ip Man 4: The Finale’ akan menjadi film laga terakhir dari Donnie Yen. Telah berusia 56 tahun, Yen ingin pensiun dari film laga yang mengharuskannya mempraktikkan adegan-adegan berat dan berbahaya.

Disutradarai oleh Wilson Yip dari naskah karya Hiroshi Fukazawa dan Edmond Wong, film bercerita tentang kehidupan Ip Man (Donnie Yen) di masa tua. Ia beranjak dari Hong Kong ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan dari sang murid, Bruce Lee (Danny Chan Kwok-kwan), sekaligus mencari sekolah bagi anaknya yang pembangkang, Ching (Ye He).

Ketika sampai di Amerika Serikat, Ip Man justru dikejutkan dengan sikap masyarakat kulit putih yang sangat rasis dan jahat terhadap kaum Tionghoa. Ahli tai chi, Master Wan (Wu Yue), juga membenci sikap Ip Man yang membiarkan Bruce Lee mengajarkan seni bela diri Tionghoa pada orang-orang kulit putih.

Di sisi lain, Master Wan adalah kepala dari Chinese Benevolent Association. Meski dongkol, mau tidak mau Ip Man harus mendapatkan rekomendasi dari Wan jika sang anak ingin bersekolah di Amerika Serikat.

Tidak hanya masalah antara dua jagoan kung fu yang saling bertolak belakang mengenai prinsip penyebaran budaya Tionghoa, hadir pula dua pelatih Angkatan Laut Amerika Serikat yang rasis, Geddes (Scott Adkins) dan Collin (Chris Collins). Geddes dan Collin yang sangat menyukai karate tidak senang ketika salah satu pelatih, Hartman (Vanness Wu), berupaya memasukkan unsur bela diri Tionghoa ke dalam kurikulum.

Bagaimana cara Ip Man menyelesaikan semua masalah itu? Masih bisa kah Ip Man bertarung di usia yang sudah senja? Akankah ada jalan keluar yang baik bagi semua pihak?

Untuk mengetahui hal-hal itu, silakan tonton ‘Ip Man 4: The Finale’. Pastinya, film ini cocok bagi mereka yang rindu melihat aksi keren Donnie Yen di film-film laga berunsur budaya Tionghoa.

Melalui ‘Ip Man 4: The Finale’, sutradara Wilson Yip berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu membuat film laga yang keren. Ia mampu membuat tokoh Ip Man yang kala itu diceritakan telah berusia 71 tahun nampak sangat jago dalam melakukan seni bela diri wing chun.

Film juga menawarkan pertarungan antara wing chun dengan disiplin bela diri lain, yaini tai chi dan karate. Semua pecinta film action tentu akan merasa senang melihat gerak bela diri yang sangat beragam di dalam film.

Yip juga tidak memberi porsi yang berlebihan pada sosok Bruce Lee. Ia tetap fokus menceritakan kisah hidup Ip Man dan hanya beberapa kali menghadirkan Lee di layar.

Dari segi aktor, Donnie Yen sukses memerankan tokoh Ip Man. Film ini benar-benar mengukuhkan satu fakta bahwa memang tidak ada aktor berdarah Tionghoa lain yang cocok untuk memerankan Ip selain Yen.

Scott Adkins juga sukses berperan sebagai tokoh antagonis utama di film ini. Melalui ‘Ip Man 4: The Finale’, Adkins memamerkan kepiawaian bela dirinya pada dunia.

Namun, Wilson Yip tetap melakukan kesalahan yang sama seperti film ‘Ip Man’ (2008). Ia terlalu banyak memasukkan sub-tema yang terasa kurang penting dan justru mengganggu tema utama dalam film, yakni perbedaan perspektif mengenai persebaran budaya Tionghoa.

Memang sub-tema itu memberi pesan moral yang lebih pada penonton. Namun, pada akhirnya, tidak terbangun narasi yang baik dan film pada akhirnya agak sukar untuk mengikuti jalan cerita yang sudah ada.

Kesimpulannya, ‘Ip Man 4: The Finale’ akan sangat seru untuk disaksikan oleh pecinta film-film laga yang mengangkat budaya Tionghoa. Akting para aktor pun tergolong keren dan hampir semua adegan laga yang tersaji terasa seru serta menegangkan.

Namun, narasi dalam film terasa kurang baik, karena sub-tema yang terlalu banyak. Alhasil, film terasa agak membingungkan dan mungkin, membosankan bagi mereka yang mengutamakan alur cerita ketimbang adegan laga.

– Alur Cerita

Jin, putra tunggal IP Man kembali berulah di sekolahnya. Dan ini memaksa pihak sekolah mengeluarkan Jin. Mau tidak mau, Ip Man sebagai orang tua harus mencarikan sekolah baru untuk Jin. Sebuah momen mendorong Ip Man untuk pergi ke Amerika untuk mencari calon swaka baru untuk Jin.

Seperti kebanyakan anak muda, Jin punya kemauan sendiri yang membuat Ip Man dilema. Dalam kunjungannya ke Amerika, Ip Man malah dihadapkan dengan masalah yang melibatkan Bruce Lee (Kwok-Kwan Chan), salah satu muridnya yang dianggap melakukan kesalahan fatal terhadap asosiasi warga cina di Amerika.

Permasalahan ternyata merambat ke hal yang lebih pelik. Asosiasi masyarakat cina di Amerika ternyata mendapat penindasan yang akhirnya memaksa Ip Man harus turun tangan.

Film Terbaik Yang Hadir Di 2020

Film Terbaik Yang Hadir Di 2020 – Menonton film di bioskop bisa menjadi salah satu kegiatan di sela-sela kesibukan dan rutinitas sehari-hari pada awal Januari 2020. Terlebih sejumlah film baru dari berbagai genre baik luar maupun dalam negeri siap menanti untuk ditonton. Selain cerita soal kelanjutan kisah Cinta Si Doel, ada juga film horor Surat Kematian yang pengambilan gambarnya di Kota Gudeg. Film action 1917 yang disutradai oleh Sam Mendes pembuat James Bond (Skyfall) juga dapat menjadi referensi tontonan bioskop di Januari 2020. Berikut sejumlah film yang tayang bulan Januari 2020:

1. Akhir Kisah Cinta Si Doel Akhir Kisah Cinta Si Doel adalah film ketiga dari trilogi Si Doel the Movie. idnslot

Akhir Kisah Cinta Si Doel adalah film ketiga dari trilogi Si Doel the Movie. Seperti judulnya, film ini masih bercerita soal kisah cinta segitiga Doel, Sarah dan Zaenab.  Kegembiraan tercurah kepada keluarga Doel (Rano Karno) saat Sarah kembali ke Jakarta bersama Dul (Rey Bong). Walaupun ada kebahagiaan, tetap saja, kepulangan Sarah akan kembali menyeret Zaenab dan Doel ke dalam ombak cinta segitiga. Zaenab yang positif hamil berada dalam kebimbangan. Dia masih trauma pernah kehilangan buah hati di masa lalu. Tak hanya itu, Zaenab kini harus memilih antara tetap berada di sisi Doel atau merelakannya demi menyatukan kembali sebuah keluarga. Sarah juga tidak kalah pelik keadaannya. Dia harus memutuskan apakah akan mantap bercerai dengan Doel atau rujuk kembali demi Dul si buah hatinya. Rencananya film Doel ini mulai tayang pada 23 Januari. idnslot

2. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)

Film Terbaik Yang Hadir Di 2020

Film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama itu sudah bisa dinikmati di akhir pekan pertama Januari. Film ini diketahui bercerita mengenai sebuah keluarga yang sebenarnya menyimpan rahasia. Penonton akan diajak menyelami kehidupan Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Ra-chel Amanda), kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia. Awan berkenalan dengan Kale, seorang laki-laki eksentrik yang memberikannya pengalaman jatuh bangunnya hidup. Sikap Awan pun berubah. Lalu ia mendapat tekanan dari orang tuanya. Hal tersebut mendorong pemberontakan ketiga kakak beradik yang menyebabkan terungkapnya rahasia dan trauma (luka) besar dalam keluarga mereka.

Dari pesan-pesan yang ada di buku itu diracik menjadi sebuah cerita dengan kisah keluarga yang menyimpan sebuah rahasia. Kisah keluarga Narendra dengan kehidupan sehari-hari sebagai anak, baik menjadi kakak, anak tengah, maupun anak bungsu, serta menjadi seorang ayah dan ibu.

Visualnya yang indah ini menjadi nilai lebih film ini walaupun ceritanya terbilang ringan. Tidak hanya itu saja, soundtrack yang ada di film ini juga memperkuat ceritanya.

3. Surat dari Kematian

Film Terbaik Yang Hadir Di 2020

Max Pictures kembali menghadirkan sebuah film horor yang diangkat dari novel best seller berjudul sama, Surat Dari Kematian. Dan setelah Gala Premiere semalam, berikut saya tuangkan pendapat saya lewat Review Film Surat Dari Kematian arahan Hestu Saputra dan produser Ody Mulya ini.

Film di Januari 2020 juga menyajikan film horor. Salah satunya adalah Surat dari Kematian. Film yang dibintangi oleh Carissa Perusset, Jerome Kurnia, Omara Esteghlal, dan Endy Arfian ini berlatarbelakang di Yogyakarta. Zein gagal membuktikan adanya legenda urban hantu Mbak Rohanna di Jembatan Perawan, Yogyakarta.  Hal itu membuatnya harus mencari tempat lain untuk konten YouTube Zein dan teman-temannya.  Akhirnya mereka melakukan aksi mengerikan di tengah kota Yogyakarta lalu mengaku mendapat surat kematian.  Ada ancaman jika perintah dalam surat tersebut tidak dilakukan, maka akan terjadi pembunuhan.

Film menceritakan kisah Kinan (Carissa Perusset) yang dalam versi layar lebarnya ini, Ia diceritakan sebagai seorang jurnalis, yang sedang mendalami fakta-fakta terkait lokasi-lokasi angker di sekitaran UGM.

Kinan bersahabat dengan Zein (Endy Arfian), yang dikisahkan memiliki Indra keenam dan kemampuan melihat mahluk astral. Walaupun Kinan tidak begitu percaya tentang hal-hal ghaib termasuk kemampuan Zein, tapi Kinan acap kali meminta bantuan Zein untuk pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Gagal membuktikan adanya hantu Mbak Rohanna di jembatan perawan, membuat Zein mengusulkan berbagai pilihan tempat angker lain pada Kinan. Zein meyakini, disekitar UGM bertebaran banyak lokasi angker yang bisa menjadi objek penyelidikan Kinan.

Adalah Pasha (Omara N. Esteghlal), seorang mahasiwa yang ternyata satu kampus dengan mereka, melakukan aksi memalukan di tengah kota Yogyakarta dengan mengaku mendapat surat dari kematian. Surat tersebut mengancam, apabila Pasha tidak melakukan apa yang diperintahkan padanya seperti yang ada di dalam surat, maka kematian akan menjemputnya dalam waktu kurang dari sebulan.

Kabar tersebut tentu sangat menghebohkan. Dan dari surat tersebut, Zein dan Kinan tergerak untuk menyelidiki Gama Plaza, bangunan tua yang dulunya pernah dijadikan tempat bunuh diri seorang mahasiswa kampus bernama Darius. Namun saat mereka baru memulai penyelidikan, surat berikutnya pun datang lagi ke salah satu mahasiswa kampus, dan kali ini memakan korban.

4. 1917

Film yang disutradarai Sam Mendes ini menghadirkan karya epik Perang Dunia pertama.  Saat itu para prajurit muda Inggris, Schofield (George Mackay) dan Blake (Dean-Charles Chapman) diberi misi yang terlihat mustahil, yaitu sebuah perlombaan melawan waktu. Mereka harus melintasi wilayah musuh dan menyampaikan pesan untuk menghentikan serangan yang dapat merenggut ratusan tentara Inggris. Saudara kandung Blake ada di antara mereka. Film action perang tersebut dikatakan disajikan dalam one shot tanpa henti dari awal hingga akhir film. Film bergenre action ini baru bisa ditonton 22 Januari. 5. Underwater

5. Underwater

Kristen Stewart hadir lagi setelah memainkan film Charlie’s Angels pada November 2019 lalu. Dalam film ini dia menjadi salah satu kru bawah laut. Namun gempa bumi menghancurkan laboratorium bawah tanah mereka. Mereka terancam kehilangan oksigen dan peralatan untuk menunjang kehidupan. Maka mereka memutuskan untuk menyusuri jalan bawah laut dan menuju stasiun berikutnya. Tetapi para kru mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih menakutkan di dasar laut. Film ini baru bisa ditonton di bioskop pada 8 Januari.

6. Nyanyian Akar Rumput

Film ini memenangkan Piala Citra film dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2018.  Film yang dibuat dalam waktu 4 tahun itu menceritakan kisah seorang anak bernama Fajar Merah, anak seorang penyair era Orde Baru bernama Wiji Thukul yang hilang bersamaan riuhnya politik tanah air menjelang berakhirnya rezim Orde Baru. Isu-isu HAM diangkat dalam film ini. Di tengah dinamika Pemilihan Presiden 2014, setelah 16 tahun tragedi 98 berlalu, timbul harapan baru pada presiden akan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Film ini rencananya tayang mulai 16 Januari 2020.

7. Doctor Dolittle

Berpetualang ke pulau mitos bersama berbagai hewan dilakukan Dr. John Dolittle (Robert Downey Jr.).  Dia terpaksa melakukan pengembaraan itu karena ratu muda (Jessie Buckley, Wild Rose) jatuh sakit parah. Dalam petualangannya dia tak sendiri, tapi bersama anak magang. Selain itu teman-teman hewan-hewannya seperti gorilla, bebek, burung unta, beruang kutub, dan burung beo juga ikut.  Lebih lengkapnya, film ini akan mulai tayang di bioskop Indonesia sekitar 17 Januari 2020.

Film Hollywood Terlaris 2019

Film Hollywood Terlaris 2019 – Sebuah film biasanya memiliki sebuah target ketika sudah tayang nanti, target tersebut pada umumnya adalah mendapatkan keuntungan yang besar dan meraih jumlah penonton sebanyak mungkin.

Di sepanjang tahun ini saja banyak judul film yang berhasil mencapai target tersebut, namun ada juga yang justru memecahkan rekor yang telah ada sebelumnya. idn slot

Terdapat beberapa judul film dari luar negri atau dalam negri yang berhasil memecahkan rekor tersebut. Berikut ini adalah judul-judul film tersebut: idn slot

1. Avengers: Endgame

Film Hollywood Terlaris 2019

Siapa yang tidak tau dengan film fenomenal yang diputar pada bulan April ini? Film yang menunjukkan perang terakhir para Avengers dengan musuh mereka Thanos. Film ini juga menjadi film terakhir yang bisa kita saksikan untuk melihat Avengers kesayangan kita bekerja bersama melawan musuh. Selain itu Film Avengers : Endgame ini juga menjadi film terlaris sepanjang masa dan berhasil mengalahkan Avatar yang sudah menjadi film paling laris 10 tahun terakhir.

Sebagai sebuah kulminasi dari 21 film sejak dimulainya Marvel Cinematic Universe 10 tahun yang lalu, Avengers: Endgame berhasil menggeser Avatar dari posisi puncak sebagai film terlaris sepanjang masa. Secara rinci Avengers: Endgame berhasil mendapatkan $2.797 miliar (sekitar Rp 39 triliun), meninggalkan Avatar di angka $2.789 miliar (sekitar Rp 38 triliun).

Selain itu, waktu yang dibutuhkan oleh Avengers: Endgame untuk berada di posisi puncak terbilang cukup singkat hanya 3 bulan saja, berbeda dengan Avatar yang membutuhkan waktu cukup lama, yaitu 8 bulan.

Tidak hanya sebagai film terlaris sepanjang masa saja, Avengers: Endgame juga memecahkan sejumlah rekor lainnya seperti opening terbesar pada hari pertama, memiliki jumlah tayang terbanyak sepanjang sejarah, film 3D dengan penghasilan terbanyak di opening weekend, dan masih banyak lagi.

2. Joker

Film Hollywood Terlaris 2019

Tidak mau kalah dengan Marvel, film DC juga berhasil menempati posisi puncak sebagai film terlaris sepanjang masa lewat film Joker. Bedanya adalah Joker berhasil menempati posisi puncak di kategori film dengan rating dewasa, menggeser film Marvel lainnya, yaitu Deadpool.

Joker berhasil mengalahkan Deadpool di angka $1.057 miliar (sekitar Rp 14 triliun) yang tahun lalu hanya berhasil mendapatkan $782 juta (sekitar Rp 10 triliun). Tidak hanya Deadpool saja, film Marvel lainnya, yaitu Venom juga berhasil dilewati oleh Joker.

Joker berhasil mengalahkan Venom dari segi pendapatan untuk opening weekend secara domestik dan global, yang masing-masing mendapatkan $93.5 juta (sekitar Rp 1.3 triliun) dan $248.2 juta (sekitar Rp 3.4 triliun). Tidak hanya untuk Joker saja, keberhasilan film tersebut juga berimbas kepada Todd Phillips dan Joaquin Pheonix.

Bagi keduanya film Joker berhasil mengalahkan film mereka sebelumnya, yaitu The Hangover II yang hanya mendapatkan $85.9 juta (sekitar Rp 1.2 triliun) dan Signs di angka $60.1 miliar (sekitar Rp 839 miliar).

3. Frozen II

Film animasi Disney yang baru tayang beberapa minggu, yaitu Frozen II juga berhasil unjuk gigi ditahun ini. Sekuel dari film pertamanya di tahun 2016, Frozen II berhasil memecahkan rekor sebagai film animasi dengan pendapatan terbanyak di opening weekend.

Frozen II berhasil mengalahkan film animasi Disney lainnya, yaitu Toy Story 4 yang bersamaan dirilis pada tahun ini. Elsa dan Anna berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar $358 miliar (sekitar Rp 5 triliun) dari 37 negara, meninggalkan Woody dan kawan-kawan yang hanya mendapatkan $240.9 juta (sekitar Rp 3.3 triliun) saja. Film yang tayang perdana pada 20 november tersebut masih tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

4. Parasite

Tidak mau kalah dengan yang lainnya, film asal Korea yaitu Parasite juga berhasil memecahkan sejumlah rekor di tahun ini. Di awal tahun ini saja film yang disutradarai oleh Bong Joon Ho berhasil menjadi film asal Korea pertama yang memenangkan penghargaan Palme d’Or di Cannes Film Festival bulan Mei kemarin.

Beberapa bulan kemudian, film Parasite melalui Neon tayang perdana di Amerika Serikat. Film tersebut tayang di 3 bioskop di Los Angeles dan New York (The Landmark, Arclight Hollywood, dan IFC Center). Dari ketiga tempat tersebut Parasite berhasil meraup keuntungan sebesar $376.264 (sekitar Rp 5.2 miliar) atau  $125.421 (sekitar Rp 1.7 miliar) per bioskop, sekaligus menjadi film berbahasa asing dengan rata-rata pendapatan terbesar per bioskop sepanjang masa.

5. The Lion King

Film The Lion King yang tayang pada bulan Juli ini merupakan versi live actionnya. Film ini dirilis tepat 25 tahun setelah film kartun pertamanya tayang secara luas. Film live action ini tidak terlalu berbeda jauh dengan versi kartunnya. Tetap menceritakan tentang perjalanan singa kecil bernama Simba yang lahir sebagai raja selanjutnya menggantikan ayahnya, Mufasa. Film ini dibuat dengan sepenuh hati terlihat dari sutradara terkenal yang memegang film ini yaitu Jon Favreau, dengan tim animasi yang terbaik juga. Tidak salah kan kenapa film ini bisa menjadi no. 2 paling laris tahun ini.

6. Spider Man : Far From Home

Film sekuel kedua dari Spider Man juga menjadi film terakhir penutup Marvel phase 3. Film yang menceritakan Peter yang masih belum bisa bangkit pasca ditinggal mentornya tercinta, Iron Man, harus bangkit melawan musuh-musuh yang datang untuk balas dendam dengan sang Iron Man dan mengincar Peter serta teman kuliahnya dalam perjalanan mereka berlibur bersama. Dalam film ini juga banyak kenangan akan Iron Man yang ditampilkan yang bisa mengobati rasa kangen para penggemar terhadap sosok Iron Man yang sudah meninggalkan jagat universe The Avengers selanjutnya.

7. Captain Marvel

Film Captain Marvel merupakan film solo pahlawan wanita pertama yang ada di cinematic universe Marvel. Bercerita tentang Vers, warga kerajaan Kree yang pada suatu misi terdampar di bumi. Ketika sedang berusaha untuk kembali ke Kree, Vers menemukan kepingan memori tentang kehidupannya yang ternyata ada di bumi dan juga tentang kekuatannya yang sangat kuat yang selama ini tidak ia ketahui cara mengontrolnya.

Sebagai karakter pahlawan baru di Marvel, Captain Marvel ini menjadi salah satu pahlawan yang ditunggu-tunggu karena memang memiliki kekuatan yang luar biasa bahkan mungkin salah satu yang paling kuat. Apalagi setting kejadiannya berada di tahun 1995, sangat jauh sebelum Avengers modern ada.

8. Toy Story 4

Melanjutkan ketenaran Toy Story, bulan Juni ini akhirnya dirilis lah petualangan Woody dan teman-temannya dalam Toy Story 4. Film ini berkisar pada cerita adanya mainan baru yang dibawa Bonnie yaitu Forky, yang akan menunjukkan besarnya dunia pada mainan seperti mereka.

Sudah melalang buana sejak 1995, kepopuleran Woody ini masih bertahan kalau kita melihat bahwa di tahun 2019 ini masih berhasil masuk ke peringkat 5 besar meskipun untuk film series yang sudah cukup lama.

Film Indonesia Dengan Penonton Terbanyak

Film Indonesia Dengan Penonton Terbanyak – Menonton film baik di bioskop, dengan streaming, maupun melalui DVD terkadang menjadi hiburan bagi beberapa orang utnuk mengisi waktu luang. Sepanjang tahun 2019, para sutradara berbakat Indonesia telah menelurkan berbagai macam film yang berhasil mewarnai kehidupan kita.

Dilansir dari situs filmindonesia.or.id, ada 3 film yang menempati urutan teratas di tahun 2019 ini. Dan bisa dipastikan, ketiga film ini mendulang untung besar dari pemutarannya di Indonesia. Penasaran apa saja? Check it out! slot online indonesia

1. Danur 3

Film Indonesia Dengan Penonton Terbanyak

Tidak hanya film luar negri saja, film Indonesia yaitu Danur 3 juga berhasil memecahkan rekor dari segi jumlah penonton. Film yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina berhasil memecahkan rekor sebagai film horor Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak di hari pertama dengan 251.157 orang, sedangkan untuk keseluruhan film Danur 3: Sunyaruri menempati posisi 4 menggeser Dilan 1990. Total jumlah penonton yang didapatkan sejak  penayangan perdananya pada 26 september bulan lalu, film Danur 3: Sunyaruri berhasil mendapatkan 2.411.036 penonton, berada di posisi ke-3 diatas Dua Garis Biru dan Dilan 1991 sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak tahun ini. slot online indonesia

2. Dilan 1991

Film Indonesia Dengan Penonton Terbanyak

Posisi pertama ditempati oleh film Dilan 1991. Siapa, sih, yang tidak pernah mendengar judul film yang satu ini, khususnya kaum wanita dan penyuka film drama?

Dari situs filmindonesia.or.id, didapati data jumlah penonton sebesar 5.253.411 orang sepanjang pemutarannya. Film yang dibintangi oleh artis muda Iqbal Ramadhan dan Vanesha Prescilla ini mengisahkan mengenai kelanjutan antara hubungan Dilan dan Milea dari film Dilan 1990.

Biaya produksi dari film ini dikabarkan mencapai 20 miliar, lho, Sobat! Namun hasil pendapatan yang diterima juga tidak tanggung-tanggung, yaknin berkisar 250 miliar. Gokil! Tidak heran jika melihat bahwa film Dilan 1991 merupakan film dengan perolehan penonton terbanyak di tahun ini.

Kelanjutan kisah Dilan dan Milea di masa SMA itu membawa 5,2 juta penonton ke bioskop. Film ini otomatis menjadi film Indonesia terlaris sepanjang tahun 2019.

3. Dua Garis Biru

Bukan hanya pasangan remaja Dilan dan Milea saja yang menyedot perhatian banyak orang. Tapi ada pula sepasang remaja gemas bernama Bima dan Dara.

Mereka adalah karakter utama yang ada di film ‘Dua Garis Biru’ besutan Gina S. Noer. Film ini sempat menjadi kontroversi di kalangan masyarakat karena tema yang diangkat cukup sensitif di negeri ini.

Selanjutnya ditempati oleh film Dua Garis Biru. Pemutaran film ini sempat mengundang kontroversi lantaran mengisahkan mengenai sepasang kekasih yang melewati batas ketika sedang berpacaran, sehingga sang wanita hamil di luar nikah. Mereka pun harus bertanggung jawab dengan memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda.

Film Dua Garis Biru sempat dinyatakan sebagai film yang tidak mendidik oleh beberapa netizen. Banyak yang menuding bahwa film ini bisa membuat anak muda terinspirasi untuk melakukan seks bebas. Padahal, film ini mencoba menggambarkan dampak-dampak negatif yang terjadi bila pasangan muda melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Namun tidak sedikit pula netizen yang membela bahwa film ini adalah film yang sarat akan konsekuensi pacaran yang di luar batas yang masih tabu dibicarakan di Indonesia.

Walau melalui banyak kontroversi dan boikot, setelah film Dua Garis Biru tayang di bioskop Indonesia, film ini berhasil meraih 2.538.473 orang penonton yang mayoritas adalah kaum milenial.

Apabila kita ambil rata-rata harga tiket bioskop pada tahun 2019 adalah Rp 40 ribu, maka film ini dapat meraup keuntungan sekitar Rp 101 miliar. Salut!

Berkat keberanian mengangkat isu sensitif tersebut, Gina S. Noer diganjar penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2019 sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik. Sementara filmnya disaksikan oleh sekitar 2,5 juta penonton.

Ada pemandangan berbeda dari minat penonton di tahun lalu dan sekarang.

4. My Stupid Boss 2

My Stupid Boss masuk dalam lima besar judul film terlaris tahun ini. Film yang menghadirkan Reza Rahadian dan BCL, film ini sukses bertengger di kisaran angka 1,8 juta penonton.

5. Perempuan Tanah Jahanam

Film Perempuan Tanah Jahanam menyuguhkan adegan berdarah serta debut Christine Hakim bermain dalam film horor.

Film kedua arahan sutradara Joko Anwar di tahun 2019 ini sukses menapaki angka kisaran 1,7 penonton dalam daftar film terlaris.

Perempuan Tanah Jahanam menjadi film bergenre horor yang mampu membuat penonton terkesima. Pasalnya, film garapan Joko Anwar ini tak hanya menyajikan kisah horor melainkan adrenaline rush para penonton. Perempuan Tanah Jahanam rilis pada Oktober 2019 lalu. Perempuan Tanah Jahanam berkisah mengenai seorang perempuan yang bernama Maya yang diperankan oleh Tara Basro.

Kebetulan Maya hanya hidup seorang diri dan hanya memiliki seorang teman bernama Dini yang diperankan oleh Marissa Anita. Keduanya pun mendirikan usaha dan membutuhkan modal. Beruntung dari informasi, Maya mempunyai tanah warisan yang terdapat di sebuah desa terpencil. Sayang, sesampainya di desa itu, Maya dan Dini malah menemukan keanehan-keanehan, seperti melihat kuburan bayi. Film ini ditonton oleh 1.795.068 penonton berdasarkan data yang didapat dari filmindonesia.or.id.

6. Kuntilanak 2

Kesuksesan film pertamanya yang mencatatkan angka 1.236.000 penonton (sesuai data dari filmindonesia.or.id) dan menempatkannya di urutan ke-12 film terlaris 2018, membuat MVP Pictures tak perlu berpikir 2 kali untuk segera melanjutkan kisah petualangan Dinda dan kawan-kawan. Kisah Kuntilanak(2018) yang dirombak total dari apa yang pernah kita saksikan pada trilogi Kuntilanak (2006-2008), terbukti cukup diterima oleh para moviegoers karena menghadirkan cerita yang benar-benar baru.

Tayang 4 Juni 2019, Kuntilanak 2 menjadi bagian dari Kuntilanak Universe yang dimulai Rizal sejak 2006 lalu. Kuntilanak Universe kembali dibangkitkan lewat seri kedua yang dimulai dari Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019). Dirilis tepat satu hari sebelum lebaran , Kuntilanak 2 menjadi 1 dari 5 film Indonesia yang siap menghibur momen libur lebaran.

7. Keluarga Cemara

Keluarga Cemara begitu populer di tahun 90-an sebagai serial televisi keluarga favorit.

Kini, film yang mengadaptasi sinetron berjudul sama yang diciptakan mendiang Arswendo Atmowiloto sukses meraih 1,7 penonton. Pokok cerita di film ini juga tetap dijaga dengan menghadirkan Abah, Emak, Euis, dan Ara bersama latar waktu lebih moderen.

8. Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot

Gundala menjadi pembuka Jagat Sinema Bumilangit yang dibagi dalam dua babak dengan sutradara Joko Anwar. Setelah Gundala, masih ada Sri Asih dan Virgo yang juga mengadaptasi komik karya komikus Indonesia.

Meski belum merajai daftar film terlaris, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot ini mencapai 1,6 juta penonton saat rilis 29 Agustus 2019. Film ini juga ikut serta dalam festival bergengsi yakni Toronto International Film Festival.